A.    Model
Pembelajaran Inkuiri Terstruktur

1.      Pengertian
Model Pembelajaran Inkuiri

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kamus Bahasa Inggris mengartikan bahwa inquiry adalah penyelidikan. Inkuiri
merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi ilmiah melalui kegiatan
observasi atau eksperimen untuk memecahkan suatu masalah (Sadia, 2014).

Model pembelajaran inkuiri merupakan
suatu model pembelajaran yang memberikan peluang pada siswa untuk membangun
pengetahuannya sendiri, meningkatkan rasa ingin tahu siswa, dan membuat siswa tertarik
untuk belajar dalam proses pembelajaran dengan dibantu oleh guru melalui  kegiatan penyelidikan (Kustijono, 2012).
Bantuan guru tersebut yaitu guru secara kreatif memberikan inovasi dalam proses
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan dengan memberikan
kesempatan pada siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Tujuan guru
menerapkan model pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran yaitu untuk
membantu atau melatih siswa dalam mengembangkan keterampilan siswa, agar siswa
dapat lebih kreatif dalam memperoleh informasi yang dituju.

Sintaks model pembelajaran inkuiri  :

Tabel 2.1.
Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri

Fase

Perilaku Guru

Menyajikan
pertanyaan atau masalah

Guru mengidentifikasi masalah bersama
siswa untuk merumuskan suatu pertanyaan  dan dituliskan di papan tulis, serta guru
membagi siswa dalam kelompok belajar untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Membuat
hipotesis

Guru membimbing siswa untuk berdiskusi
dalam menentukan hipotesis berdasarkan pertanyaan yang telah ditentukan dan
memprioritaskan hipotesis yang menjadi prioritas penyelidikan.

Merancang
eksperimen

Guru membimbing siswa dalam menyusun
langkah-langkah eksperimen berdasarkan masalah yang akan dipecahkan.

Diskusi
untuk memperoleh informasi

Guru membimbing siswa untuk
berdiskusi dengan baik secara objektif yang bertujuan untuk memperoleh
informasi

Mengumpulkan
dan menganalisis data

Guru memberi kesempatan pada setiap
kelompok untuk berdiskusi yang bertujuan untuk mengumpulkan data dengan
menggunakan alat/bahan dan menganalisis data berdasarkan informasi yang telah
didapatkan melalui diskusi

Membuat
kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat
kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan yang telah ditentukan (rumusan
masalah) berdasarkan hasil eksperimen.

                                          (Nurdin & Adriantoni, 2016)

 

Pada model pembelajaran inkuiri,
terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan untuk diterapkan dalam proses
pembelajaran (Nurdin & Adriantoni, 2016). Beberapa
kelebihannya yaitu :

a.       Pada proses pembelajaran, siswa lebih
aktif untuk mencari dan mengolah informasi yang diinginkan dengan bimbingan
guru.

b.      Memotivasi siswa untuk semangat belajar
berdasarkan keinginannya sendiri.

c.       Membuat siswa merasa puas secara
intrinsik, karena pada proses mencari dan mengolah informasi tersebut dilakukan
oleh siswa sendiri.

d.      Membentuk dan mengembangkan konsep diri
pada diri siswa.

e.       Membantu siswa agar terhindar dari
cara-cara belajar tradisional.

 

Beberapa
kekurangannya yaitu :

a.       Membutuhkan waktu untuk merubah
kebiasaan cara belajar siswa. Kebiasaan tersebut yaitu siswa dibiasakan dengan
belajar tidak berpusat pada guru.

b.      Guru membiasakan tidak memberikan
informasi yang cukup lengkap kepada siswa (tidak menjadi sebagai sumber
informasi bagi siswa), namun guru hanya membantu atau membimbing siswa dalam
memperoleh informasi yang diinginkan, siswa dapat memperoleh informasi tersebut
bisa melalui sumber-sumber yang relevan dengan materi yang sedang dipelajari.

c.       Model pembelajaran ini tidak menjamin untuk
diterapkan di kelas yang jumlah siswanya cukup banyak karena model pembelajaran
membutuhkan bimbingan guru yang cukup.

d.      Model pembelajaran ini membutuhkan referensi
yang cukup, baik referensi berupa cetakan maupun berupa online untuk memenuhi
kebutuhan siswa dalam memperoleh informasi.

e.       Apabila siswa dan guru sudah terbiasa
dengan model pembelajaran tradisional dan sulit untuk merubah kebiasaan
tersebut dengan model pembelajaran inkuiri, maka pembelajaran akan berasa
membosankan sehingga kelas akan menjadi pasif.

 

2.      Pengertian
Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur

Banchi & Bell (2008) menyatakan
bahwa inkuiri terstruktur merupakan salah satu model pembelajaran dimana guru
memberikan suatu permasalahan yang disertai dengan prosedurnya untuk dilakukan
penyelidikan oleh siswa. Model pembelajaran inkuiri terstruktur tidak
memberitahukan tentang hasil yang akan diperoleh siswa melui penyelidikan.
Siswa diminta untuk menentukan sendiri hubungan antar variabel hingga
penyimpulan berdasarkan data yang diperoleh secara mandiri dan dibimbingan guru
(Colburn, 2000). Kegiatan penyelidikan tersebut memberikan pengalaman yang
lebih bermakna pada siswa, sehingga informasi yang diperoleh siswa akan cukup
kuat untuk disimpan dalam memorinya. Model pembelajaran inkuiri terstruktur, membuat
siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan eksperimen dengan melakukan
kegiatan-kegiatan yang telah tercantum di dalam Lembar Kerja Siswa (LKS).

Sintaks model pembelajaran inkuiri
terstruktur :

Tabel 2.2.
Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur

Fase

Kegiatan

Mengeksplorasi
Fenomena
 (Exploring a phenomenon)

Guru membimbing siswa dalam mengamati
sebuah fenomena atau kejadian unik untuk menumbuhkan keingintahuan siswa.

Fokus
pada sebuah pertanyaan
(Focusing on a question)

Menetapkan suatu rumusan masalah yang
layak untuk dijawab melalui kegiatan eksperimen. Pertanyaan diperoleh dari
ide siswa atau guru selama pembelajaran.

Merencanakan
kegiatan penyelidikan
(Planning the investigation)

Siswa dibantu oleh guru untuk melaksanakan
kegiatan merancang desain eksperimen, mengidentifikasi peralatan yang akan
digunakan, menentukan hipotesis, membuat tabel data, dan mengidentifikasi
keamanan kerja yang akan dilakukan selama proses pembelajaran.

Melaksanakan
penyelidikan
(Conducting the investigation)

Siswa melaksanakan kegiatan
eksperimen untuk mengumpulkan data, mencatat hasil data eksperimen dalam data
yang telah dibuat, dan data yang diperoleh dibuat dalam bentuk grafik.

Menganalisis
data hasil pengamatan
(Analyzing the data and evidence)

Siswa menganalisis dan menyimpulkan berdasarkan
hasil yang telah diperoleh melalui kegiatan eksperimen.

Membangun
pengetahuan baru
(Constructing new knowledge)

Hasil yang talah diperoleh selama
proses pembelajaran dihubungkan dengan teori yang sudah ada dan siswa saling
merefleksi makna dari pengetahuan yang didapat proses pembelajaran.

Mengkomunikasikan
pengetahuan baru
(Communicating new knowledge)

Siswa mengkomunikasikan hasil
eksperimennya dalam bentuk presentasi/laporan/artikel ilmiah.

(Llewellyn, 2013)

 

Menurut Salim dan Tiawa (2015)
menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terstruktur merupakan model
pembelajaran yang mendorong siswa untuk terlibat aktif dan kreatif dalam proses
pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan
masalah. Model pembelajaran inkuiri terstruktur dalam proses pembelajarannya
yaitu menyeimbangkan 3 kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan
keterampilan, sehingga pembelajaran lebih bermakna.

Sesuai dengan uraian diatas, dapat
dinyatakan bahwa suatu proses pembelajaran dengan diterapkannya model
pembelajaran inkuiri  terstruktur  akan dapat membuat siswa aktif dan kreatif dalam
memperoleh informasi yang diinginkan. Guru menyediakan rumusan masalah yang
disertai prosedur eksperimen agar siswa terdorong dalam memperoleh informasi
melalui kegiatan eksperimen. Siswa dapat menentukan hubungan variabel
eksperimen hingga pengelolaan data untuk mendapatkan kesimpulan, dimana
kesimpulan tersebut merupakan informasi yang diinginkan.

 

B.     Keterampilan
Proses Sains

Keterampilan proses dapat diartikan
sebagai sesuatu yang dasar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi harus
dimiliki oleh siswa (Jack, 2013). Keterampilan proses terdapat 2 bagian yaitu
pertama keterampilan proses dasar yang terdiri dari aspek mengamati, mengukur,
mengklasifikasi, memprediksi dan mengkomunikasi (Gürses, et al., 2015). Kedua yaitu keterampilan proses  terintegrasi yang terdiri dari menginterpretasi
data, menentukan hipotesis, mengidentifikasi variabel, mendefinisikan varibel
secara operasional, membuat prosedur eksperimen, dan melaksanakan eksperimen (Aydinli,
et al., 2011). Menurut Jack (2013) menyatakan bahwa keterampilan proses dasar digunakan
dalam ilmu pengetahuan dan non-ilmu
pengetahuan, sedangkan keterampilan proses terintegrasi merupakan tindakan yang
dilakukan oleh  ilmuwan dengan
menggunakan teknologi. Berdasarkan 2 keterampilan proses tersebut dapat
disimpulkan aspek keterampilan proses sains terdiri dari mengamati, mengajukan
pertanyaan, hipotesis, merencanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, pengunaan
alat, mengklasifikasikan, menafsirkan (interpretasi), meramalkan (prediksi), menerapkan
konsep, komunikasi.

Aspek keterampilan proses sains tersebut
dapat pula disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan sarana untuk
mengenali suatu masalah, mencari kemungkinan solusi untuk memecahkannya, dan melakukan/membuktikan
setiap kemungkinan untuk memperoleh hasil pemecahan terbaik (Dewi, 2009). Keterampilan
proses sains merupakan dasar dari pemikiran ilmiah dan penelitian (Mutlu &
Temiz, 2015). Siswa dalam proses pembelajaran diberikan kegiatan ilmiah yaitu
kegiatan penelitian yang membutuhkan keterampilan proses sains untuk
melaksanakannya. Keterampilan proses sains yang dimiliki siswa masih perlu
dilatih dan dikembangkan. Melatih keterampilan proses sains kepada siswa yaitu
dengan kegiatan eksperimen. Siswa melakukan sendiri secara berkelompok dengan
memanfaatkan beberapa indera yang dimiliki dan dibutuhkan, sehingga informasi
yang diperoleh akan tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengembangkan
keterampilan proses sains yang telah dimiliki, siswa dapat mengembangkan sediri
melalui sebuah fakta.

Beberapa keterampilan proses sains dan
indikator, yaitu :

Tabel 2.3.
Keterampilan Proses Sains dan Indikatornya

No.

Keterampilan Proses Sains

Indikator

1.     
 

Mengamati

–         
Mengumpulkan
informasi mengenai fenomena atau kejadian unik dengan menggunakan satu atau
dua indera
–         
Mencocokkan
fenomena atau kejadian unik dengan fakta tertentu
–         
Mengidentifikasi
fenomena atau kejadian unik

2.     
 

Mengklasifikasi

–         
Mengidentifikasi
fenomena atau kejadian unik untuk diklasifikasikan
–         
Mengelompokkan
berdasarkan sifat/persamaan/ perbedaan/ kriteria/ sifat yang dapat diamati
–         
Mengklasifikasikan
fenomena atau kejadian unik dalam bentuk tabel atau yang lainnya

3.     
 

Menafsirkan
(interpretasi)

–         
Menghubungkan
hasil-hasil pengamatan
–         
Menemukan
pola dalam suatu seri pengamatan
–         
Menyimpulkan

4.     
 

Meramalkan
(prediksi)

–         
Menggunakan
pola-pola untuk menentukan urutan proses tindakan yang akan dilaksanakan
–         
Mengemukakan
apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati berdasarkan
pengalaman sebelumnya/data yang dapat dipercaya

5.     
 

Mengajukan
pertanyaan

–         
Bertanya
untuk meminta penjelasan
–         
Mengajukan
pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis

6.     
 

Hipotesis

–         
Menyatakan
hasil eksperimen yang diharapkan
–         
Mengetahui
bahwa ada lebih dari satu kemungkinan penjelasan dari suatu kejadian

7.     
 

Merencanakan
eksperimen

–         
Menentukan
alat/bahan/sumber yang digunakan
–         
Menentukan
variabel/faktor penentu
–         
Menentukan
apa yang akan diukur, diamati, dicatat
–         
Menentukan
apa yang dilaksanakan berupa langkah kerja

8.     
 

Menggunakan
alat/bahan

–         
Memakai
alat/bahan
–         
Mengetahui
alasan mengapa menggunakan alat/bahan
–         
Mengetahui
bagaimana menggunakan alat/bahan

9.     
 

Menerapkan
konsep

–         
Menggunakan
konsep yang telah dipelajari pada situasi baru
–         
Menggunakan
konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi

10.   

Berkomunikasi

–         
Menyajikan
informasi dengan diskusi dalam bentuk grafik, tabel atau grafik.

11.   

Melaksanakan
Eksperimen

–         
Memilih
pola yang sesuai untuk menguji hipotesis melalui penyelidikan
–         
Mengetahui
keterbatasan alat dan bahan yang digunakan dalam ekperimen
–         
Menggunakan
prosedur untuk melaksanakan kegiatan eksperimen yang aman

(Sheeba, 2013)

 

Penerapan keterampilan proses sains
dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran, sikap dan nilai yang
dituntut. Oleh karena itu, tujuan dari penerapan keterampilan proses sains
meliputi :

1.      Memperoleh pengertian yang tepat tentang
hakikat pengetahuan.

2.      Memperoleh kesempatan belajar untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan.

3.      Memperoleh kesempatan belajar melalui proses
memperoleh dan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Penggunaan keterampilan proses sains
merupakan indikator penting untuk membagi pengetahuan yang diperlukan untuk
memecahkan masalah (Jack, 2013).

Dari uraian diatas, dapat dinyatakan
bahwa keterampilan proses sains dapat membantu siswa agar lebih mudah dalam
memecahkan masalah sehingga siswa menerima dan memperoleh informasi melalui
eksperimen. Penelitian ini keterampilan proses sains yang digunakan yaitu mengidentifikasi menentukan  hipotesis, mengidentifikasi variabel,
mengklasifikasi/mengumpulkan data, menafsirkan/menginterpretasi data, dan mengkomunikasi.

 

C.    Hubungan
Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur dengan Keterampilan Proses Sains

Model pembelajaran inkuiri terstruktur
dengan keterampilan proses sains mempunyai hubungan yang saling
berkesinambungan. Model pembelajaran inkuiri terstruktur menekankan pada siswa untuk
memperoleh sendiri informasi yang diinginkan atau yang dituju melalui kegiatan
eksperimen yang dituntun oleh guru dengan diberikannya suatu permasalahan. Sintaks
model pembelajaran inkuiri terstruktur merupakan pengembangan dari metode
ilmiah (Hartati, et al., 2015). Keterampilan proses sains merupakan metode
ilmiah yang didalamnya melatihkan langkah-langkah untuk menemukan sesuatu
melalui eksperimen (Sartika, 2015). Hal ini menyatakan bahwa model pembelajaran
inkuiri terstruktur dan keterampilan proses sains mempunyai kesinambungan dalam
membantu siswa menemukan informasi melalui kegiatan eksperimen yang dapat
ditabelkan sebagai berikut :

Tabel 2.4.
Hubungan model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan keterampilan proses
sains

Fase

Keterampilan Proses Sains

Mengeksplorasi
Fenomena
(Exploring a phenomenon)

Mengamati

Fokus
pada sebuah pertanyaan
(Focusing on a question)

Mengajukan pertanyaan

Merencanakan
kegiatan penyelidikan
(Planning the investigation)

–         
Berhipotesis
–         
Menentukan
variabel
–         
Merencanakan
desain eksperimen.

Melaksanakan
penyelidikan
(Conducting the investigation)

–         
Mengklasifikasi
–         
Menggunakan
alat/bahan

Menganalisis
data hasil pengamatan
(Analyzing the data and evidence)

–         
Menafsirkan

Membangun
pengetahuan baru
(Constructing new knowledge)

Menerapkan konsep

Mengkomunikasikan
pengetahuan baru
(Communicating new knowledge)

Mengkomunikasi

 

 

D.    Pengertian
Kurikulum 2013

Fadlillah (2014) menyatakan bahwa
kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013
menitik beratkan pada proses pembelajaran dan cakupan materi yang sampaikan
kepada siswa. Kurikulum 2013 berupaya untuk memadukan antara kemampuan sikap, pengetahuan
dan keterampilan.

Kurikulum 2013 mempunyai ciri khas yang
membedakan dengan kurikulum sebelumnya, yang pertama yaitu kurikulum 2013 dalam
pelaksanaan pembelajarannya mewajibkan untuk menggunakan pendekatan scientific. Pendekatan scientific merupakan pemecahan masalah
yang dilakukan oleh siswa dengan suatu pendekatan yang menggunakan proses
ilmiah. Pada pendekatan scientific
terdapat kegiatan 5M yang terdiri dari  mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan
mengkomunikasi.  Aktivitas 5M dalam
pembelajaran meliputi :

Tabel 2.5.
Kegiatan Pembelajaran Pendekatan Scientific

Kegiatan

Aktivitas Pembelajaran

Mengamati

Melihat, mengamati, membaca,
mendengar, menyimak (dengan menggunakan atau tanpa alat)

Menanya

–         
Mengajukan
pertanyaan yang dapat ditentukan hipotesisnya dengan bimbingan guru
berdasarkan fakta yang telah disajikan.

Mencoba

–         
Mengumpulkan
data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan
–         
Menentukan
sumber data

Mengasosiasi

–         
Menganalisis
data dengan menentukan hubungan antar data dan membuat grafik berdasarkan
data yang telah diperloleh
–         
Menyimpulkan
data berdasarkan hasil analisis data

Mengkomunikasi

–         
Hasil
yang diperoleh dibuat laporan/artikel yang kemudian di sampaikan dalam bentuk
diagram, bagan, gambar ataupun media lainnya yang relevan dengan hasil yang
diperoleh.

                                                                        (Fadlillah, 2014)

 

Kedua yaitu kompetensi lulusan.
Fadlillah (2014) menyatakan dalam konteks ini kompetensi lulusan berhubungan
dengan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Permendikbud No.20
Tahun 2016 menyatakan bahwa standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kriteria
mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang terdiri dari sikap, pengetahuan,
dan keterampilan, tujuan dari SKL yaitu sebagai acuan pokok yang standar dalam pengembangan
isi, proses, penilaian pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, serta pembiayaan.

1.     
Kompentensi
sikap

Kompetensi sikap mencakup semua aspek
yang berhubungan dengan emosional yaitu perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap
hati dengan tujuan untuk mengembangkan pribadi. Lima kategori yang secara urut dimulai
dari sikap yang paling sederhana ke sikap yang paling kompleks, yaitu :

Tabel 2.6. Kompetensi sikap

No.

Kategori

Penjelasan

1.     
 

Menerima

Kemampuan
menunjukkan atensi dan penghargaan pada orang lain

2.     
 

Merespon

Kemampuan
berpartisiasi aktif dalam pembelajaran dengan merespon atas suatu kejadian
karena merasa selalu termotivasi.

3.     
 

Penilaian

Kemampuan
menunjukkan nilai yang dianut dengan membedakan mana yang baik dan kurang
baik untuk dilakukan terhadap suatu kejadian/objek.

4.     
 

Mengorganisasi

Kemampuan
membentuk organisasi nilai dengan menyeimbangkan perbedaan nilai.

5.     
 

Mengkarakter

Kemampuan
membentuk perilaku berdasarkan nilai yang dianut untuk memperbaiki intrapersonal,
interpersonal serta sosial.

(Krathwohl, 2002)

 

2.     
Kompetensi
pengetahuan

Kompetensi pengetahuan ini menekankan
pada intelektual yang dimiliki siswa, seperti pengetahuan dan keterampilan
berpikir. Level ranah pengetahuan dapat digambarkan dalam bentuk piramida yaitu
:

Menciptakan

Mengevaluasi

Menganalisis

Mengaplikasikan

Memahami

Mengingat

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Level ranah pengetahuan

(Krathwohl, 2002)

 

Ranah-ranah yang
terdapat di dalam piramida tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 2.7. Kompetensi pengetahuan

No.

Kategori

Penjelasan

1.     
 

Mengingat

Kemampuan
untuk memperoleh kembali pengetahuan yang telah diperoleh

2.     
 

Memahami

Kemampuan
untuk membangun sebuah pengertian dari berbagai sumber, mengklasifikasi dan
membandingkan

3.     
 

Mengaplikasikan

Kemampuan
menggunakan suatu prosedur untuk menyelesaikan masalah

4.     
 

Menganalisis

Kemampuan
dalam memisahkan, mencari keterkaitan, dan mencari tahu keterkaitan pada
tiap-tiap bagian dari masalah untuk dipecahkan

5.     
 

Mengevaluasi

Mengevaluasi
dan menilai sesuatu berdasarkan kriteria (kualitas, efektivitas, efisiensi,
dan konsistensi) dan standar yang sudah ada

6.     
 

Menciptakan

Kemampuan
untuk menciptakan suatu produk baru dengan menyusun kembali komponen-komponen
menjadi bentuk/pola yang baru. Mengevaluasi dan menilai sesuatu berdasarkan
norma, acuan atau kriteria

(Krathwohl, 2002)

 

3.     
Kompetensi
keterampilan

Kompetensi keterampilan menekankan pada
keterampilan motorik yang didasarkan pada pengetahuan. Kompetensi keterampilan
meliputi gerakan dan koordinasi jasmani dengan menggunakan otot kerangka. Ada lima
kategori yang mencakup dalam kompetensi keterampilan, meliputi :

Tabel 2.9.
Kompetensi Keterampilan

No.

Kategori

Penjelasan

1.     
 

Menirukan

Kemampuan
menggunakan saraf sensori untuk menirukan gerak yang telah diamati

2.     
 

Penggunaan

Kemampuan
menggunakan konsep untuk melakukan gerak

3.     
 

Ketepatan

Kemampuan
melakukan keahlian berupa gerak dengan teliti dan benar

4.     
 

Perangkaian

Kemampuan
merangkai berbagai gerakan dengan kreatif secara berkesinambungan

5.     
 

Naturalisasi

Kemampuan
melakukan gerak secara secara wajar dan efisien

(Krathwohl, 2002)

 

Ketiga kompetensi tersebut harus
berjalan dengan seimbang agar siswa mempunyai kemampuan yang baik.

Ciri khas yang ketiga dari kurikulum
2013 yaitu penilaian. Pada kurikulum 2013, menerapkan pendekatan penilaian
otentik. Fadlillah (2014) menyatakan bahwa penilaian otentik adalah penilaian
secara utuh, meliputi kesiapan, proses, dan hasil belajar siswa. Guru dapat
lebih mudah untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh siswa dengan
menggunakan penilaian.

            Berdasarkan
uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan
dari kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. 
Kurikulum 2013 terdapat 3 ciri khas yaitu kurikulum 2013 menggunakan
pendekatan scientific; kompetensi
lulusan yang diterapkan yaitu kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
serta menerapkan pendekatan penilaian otentik.